Laman

Kamis, 03 November 2011

Alangkah Lucunya Negeri Ini

Alangkah lucunya negeri ini. Satu lagi film Indonesia yang mencoba membawa kita pada kondisi yang menggambarkan keadaan para sarjana zaman ini. Film ini disutradarai oleh Deddy Mizwar, seorang aktor kawakan yang sudah punya nama besar di dunia perfilman Indonesia. Tidak hanya piawai menjadi seorang tokoh yang memainkan peran, dia juga layak diperhitungkan dalam jalaran sutradara kelas atas di negeri ini. Film bergenre drama-komedi ini, menceritakan kisah tentang seorang pemuda bernama Muluk. Dia adalah seorang sarjana jurusan manajemen yang sudah dua tahun berkeliling kota Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan. Suatu keadaan yang sangat menyentuh realitas kehidupan kota metropolitan tersebut. Ia bahkan berencana akan beternak cacing dengan sebuah sindiran yang sangat mengena tentang pilihannya untuk beternak cacing dari pada beternak hewan lainnya dengan mempertimbangkan lahan yang sempit. Ini memang adalah kondisi yang real di kota Jakarta dimana film tersebut mengambil setting. Ayahnya, Pak Makbul adalah seorang penjahit yang berjuang agar Muluk bisa sekolah hingga meraih jenjang perguruan tinggi. Kondisi memandang pendidikan sebagai sesuatu yang penting untuk kehidupan masa depan seorang anak dipertentangkan dalam berbagai dialog dan adegan. Pertentangan ini terutama terjadi antara Pak Makbul dan Haji Sarbini yang merupakan teman seperguruan disekolah mengaji. Film ini menjadi menarik manakala Muluk bertemu dengan seorang anak yang mencoba mencopet dompetnya, namun tertangkap tangan. Disaat sudah merasa putus asa akan kondisi menganggur yang dia alami, maka Muluk memutuskan untuk mempergunakan segala ilmu yang telah diperdalamnya di universitas untuk melakukan suatu manajemen yang baik dan terarah, namun sanyangnya salah kaprah. Kefatalan ini disebabkan karena Muluk melakukan suatu sistem yang teratur terhadap penghasilan dan cara kerja anak-anak jalanan yang bekerja sebagai pencopet.



Sangat menarik, karena di dalam film ini, nurani dan akal kita berkali-kali digelitik oleh berbagai adegan yang sangat nyata diadopsi dari kejadian sehari-hari yang sering kita saksikan atau malah kita perbuat. Contohnya, ketika Muluk menegur temannya Zul yang sedang main gaplek dengan mengatakan bahwa ia seharusnya mengajar karena dia adalah seorang sarjana pendidikan. Namun, dengan tidak mau kalah, Zul mengembalikan sindiran Muluk yang mengharuskan dia untuk menjadi seorang direktur karena dia adalah seorang sarjana manajemen. Pengakuan Zul yang menyesalkan pendidikan dan mengatakan bahwa ketika dia melamar untuk menjadi guru, dia malah dimintai uang, menjadi sebuah catatan tersendiri yang memang layak membuat kita tersindir.
Adegan ringan yang sebenarnya bisa jadi terabaikan, namun bisa juga sangat melampaui akal kita adalah manakala ibu dari Pipit (teman Muluk) menanyakan sebuah jawaban tentang isi TTS yang sedang ia kerjakan. “Yang menentukan halal dan haram, siapa?” tanyanya. Ayah Pipit yang bernama Hj.Rahmat menjawab MUI, namun ibu Pipit melerai, sebab yang diminta adalah lima kotak, maka dengan spontan Pipit menjawab, “Allah.” Agaknya kita menjadi sangat yakin, bahwa sang sutradara memiliki niat ‘nakal’ ketika memasukkan adegan tersebut dalam rangkaian film. Bukankah yang menentukan halal dan haram memang Allah Swt, dan hal itu sudah menjadi aturan baku yang tidak bisa ditarik ulur karena sudah termuat secara permanen dalam Al-quran.
Nah, akan menjadi sesuatu yang lucu, jika ketentuan akan halal dan haramnya sesuatu di negeri ini adalah berdasarkan pendapat suatu pihak, walaupun pihak tersebut adalah sekumpulan orang-orang berjubah putih. Perdebatan akan pentingnya pendidikan untuk masa depan kemudian berjalan seperti siklus roda pedati. Manakala Muluk masih menganggur, maka Hj.Sarbini, selalu saja mengatakan bahwa menjadi sarjana bukanlah jaminan seseorang akan sukses. Hal ini kemudian dipatahkan ketika Muluk membelikan makanan dari hasil manajemen keuangan yang dia lakukan di komunitas pencopet tersebut. Lalu sekali lagi berubah posisi pada saat Pak Makbul lantas mengetahui bahwa uang hasil pencarian Muluk adalah uang hasil mencopet. Peristiwa dimana Zul dan Pipit memperdebatkan tentang andil mereka dalam mengajarkan Pancasila, mengaji, dan sholat kepada anak-anak, menjadi sangat dapat dipahami dengan pengertian masing-masing diri, ketika salah seorang anak didik mereka tersebut baru saja pulang dari musholla. Dengan bangga Pipit menunjukkan hasil kinerjanya pada Zul, sayang sekali kebanggaan itu langsung pupus pada saat anak tersebut mengakui bahwa sehabis sholat ia lalu mengambil sandal yang ada di musholla tanpa seizin orang yang punya. Maka ketika itu Zul mengatakan, “Sekarang gue ngerti, kenapa orang yang sholat dan hafal Pancasila masih tetap mencuri.” Ini adalah pukulan mati untuk mereka yang duduk di singgasana pemerintahan dan melakukan tindakan korupsi. Bukankah kebanyakan mereka adalah orang-orang yang tidak pernah meninggalkan sholat dan tentu saja sangat hafal Pancasila bahkan sangat fasih menerangkan isi Pancasila tersebut sekalian juga dengan penjelasannya.
Puncak sindiran terdahsyat dalam cerita ini adalah pada saat Jarot, si kepala copet mengamuk karena Muluk dan teman-temannya mamilih untuk pergi. Kata-kata yang mengatakan bahwa pencopet hanya akan memiliki masa depan di penjara, tua dan miskin adalah sebuah jawaban yang cukup relevan untuk membuktikan bahwa pendidikan memang perlu. Meski Muluk kesulitan mendapatkan pekerjaan dengan titel sarjana manajemennya, namun ia membuktikan bahwa ilmunya sangat berandil dan berhasil memanajemen keuangan para pencopet itu sehingga dana yang dikumpulkan bisa dialihkan pada usaha yang halal yaitu menjadikan anak-anak yang dahulunya bekerja sebagai pencopet itu lalu berubah menjadi pedagang asongan. Selain itu, Jarot juga mengungkapkan bahwa, pendidikan memang perlu untuk menjadi jaminan seseorang akan kaya walaupun tetap memilih menjadi seorang pencopet. Yah, pencopet uang negara atau koruptor tentunya.
Alangkah lucunya negeri ini. Memang lucu, karena apapun yang membuat kita menyunggingkan senyum sepanjang film tersebut adalah sebuah bukti bahwa kita termasuk di dalam lelucon yang telah digarap dengan baik oleh seluruh kru film tersebut terutama pemeran-pemeran utama yang bermain dengan baik dan tentu saja sutradaranya. Yah, lelucon demi lelucon yang sangat kita pahami menjadi bagian dari keseharian kita sebagai rakyat dari bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar